|
|
| This Page is now Under Construct |
|
Belum Menjadi Anggota ? Silahkan Sign Up |
|
|
|
| Home |
News |
Kegiatan |
Perusahaan |
Lowongan |
Feedback |
KUIS |
Artikel |
About Us |
Contact Us |
|
|
|
|
Artikel |
|
Artikel 1 |
|
Kemana setelah wisuda? (detail)
|
|
Artikel 2 |
Apa itu Proaktif? (detail)
|
|
Artikel 3 |
Memompa semangat saat menanti pekerjaan... (detail)
|
|
Artikel 4 |
Cow or Chicken ? (detail)
|
|
Artikel 5 |
Meningkatkan Produktivitas Kerja (detail)
|
|
Artikel 6 |
TIP PRAKTIS LANCAR BERBAHASA ASING (detail)
|
|
|
|
Artikel 4 |
Cow or Chicken ? |
Post Date : Feb 27, 2006
Cow or Chicken?
Tiko baru saja lulus kuliah. Ia sedang semangat-semangatnya mencari pekerjaan. Maka dicarilah informasi lowongan kerja di koran-koran, bursa kerja, atau bertanya pada kenalan dan relasinya. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan meskipun masih dalam masa percobaan, tapi beberapa bulan kemudian ia kembali melakukan aktivitas yang sama, mencari informasi lowongan pekerjaan. Kembali ia mendapatkan pekerjaan, kali ini perusahaannya lebih ketat. Semua pegawai baru tidak boleh berhenti atau mengundurkan diri sebelum satu tahun. Namun lagi-lagi Tiko keluar sebelum waktunya meski harus mengganti sejumlah biaya yang tidak sedikit dan kembali menjalani rutinitas yang sama, mencari lowongan pekerjaan. Ada apa gerangan?
Semua orang tentu menginginkan yang terbaik bagi dirinya, termasuk dalam hal pekerjaan. Adalah wajar jika seseorang pindah kerja untuk mencari yang lebih baik. Lumrah jika menginginkan pekerjaan yang aman (kesejahteraan terjamin tanpa banyak resiko), tetapi jika terus berpindah-pindah sebelum mengetahui lebih banyak tentang pekerjaan yang dihadapi, bahkan keluar meski harus melanggar kontrak kerja misalnya, tentu masalahnya bukan lagi pada ingin mencari yang lebih baik. Barangkali di sini Tiko belum memiliki tujuan dalam berkarir: Pekerjaan seperti apa yang diinginkan, ingin bekerja di perusahaan seperti apa. Hal ini berpengaruh terhadap tindakan yang diambilnya. Tidak mengherankan jika ia melakukan trial and error dalam memilih jenis pekerjaannya. Bahkan mungkin tidak memilih sama sekali, semua lowongan pekerjaan ia masuki karena ia tidak tahu ingin bekerja di mana dan sebagai apa. Yang lebih mengejutkan ternyata tidak hanya Tiko, beberapa rekan alumninya juga melakukan hal yang sama. Ujung-ujungnya ada perusahaan yang tidak mau menerima alumni dari sekolah Tiko karena menganggap mereka tidak serius. Tampaknya hal ini yang belum disadari oleh Tiko dan kawan-kawan, bahwa tindakan yang dilakukannya dapat membawa dampak merugikan bagi orang lain. Kesempatan bagi adik-adik alumninya di perusahaan tersebut tertutup sudah.
Sebagai alumni baru, mungkin hal-hal di atas belum terpikirkan atau belum menjadi prioritas utama. Kepercayaan diri masih tinggi. Jika bulan ini tidak mendapat pekerjaan, masih ada bulan depan. Jika keluar dari perusahaan ini, masih ada perusahaan lain yang akan menerima. Teman-teman lain juga begitu kok, masih banyak kesempatan. Memang benar, tetapi alangkah baiknya jika sejak awal kita sudah mempunyai tujuan yang jelas sehingga langkah yang diambil lebih jelas. Dan yang paling penting tidak menutup kesempatan bagi orang lain. Di sisi lain fenomena di atas mencerminkan attitude yang kurang baik. Apa sih attitude? Mengapa attitude penting?
Attitude dapat diartikan secara umum sebagai kecenderungan individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya.
Hasil penelitian di Universitas Harvard dan Stanford menyatakan bahwa 85% alasan mengapa seseorang memperoleh pekerjaan dan berhasil dalam pekerjaannya adalah karena attitude-nya, sementara peran kemampuan teknis atau kemampuan spesifik lainnya hanya berkontribusi sebesar 15%. Tidak mengherankan jika dunia kerja saat ini sudah memberikan bobot lebih terhadap aspek attitude calon pegawainya pada saat penilaian. Keluar masuk kerja pada kasus di atas jelas menurunkan nilai attitude Tiko di mata perusahaan. Besar kemungkinan Tiko akan mengulangi/melakukan hal yang sama di kemudian hari karena attitude tidak dapat diubah dalam waktu singkat. Salah satu attitude yang dicari adalah komiten dari pegawainya. Perusahaan menginginkan pegawai yang memiliki bersedia memberikan yang terbaik bagi perusahaan, bukan sekedar ikut mampir atau terlibat dalam perusahaannya. Masalahnya, memang tidak mudah untuk berkomitmen karena menuntut kesediaan memberikan apa yang anda miliki. Saat anda sarapan dengan menu roti isi daging sapi asap dan telur mata sapi, anda mendapatkan komitmen seekor sapi dan keterlibatan seekor ayam. Dare to be like the cow? Or just happy being like a chicken?
(FNN)
|
|
|
Infocomcareer Development Center @2006
|
STTTelkom Ged D 103, Jl Telekomunikasi No 1 Bandung 40257 . Telp +62 22 70820227 / +62 22 7564108 ext 2063 . Fax +62 22 7565200 / +62 22 7562721 |
|