Batas Pengetahuan Adalah Langit

Batas Pengetahuan Adalah Langit



Muslim Negarawan

Blog Owner:

KsatriaLangit

Contributors:

(none)

Blog:

View All Entries
Friends

Go:

Back/Forward
Calendar
« < » > Oktober 2007
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31
Shoutbox
KsatriaLangit
3rd September 2007, 21:30

thanks utk koreksinya, setelah sy cek lagi mmg benar. inilah klo mengandalkan ingatan saja
thanks again

inshallahshaheed
3rd September 2007, 16:32

Abdul haris adalah Intel BIN yg sebelumnya pernah disusupkan ke Univ. Umul Quro.
www dot inshallahshaheed dot wordpress dot com/

inshallahshaheed
3rd September 2007, 16:29

Coreksi
Perkataan anda yg ini sedikit keliru "Fauzi Hasbi a.k.a Abu Jibril".

yang benar Fauzi Hasbi a.k.a Abdul Haris.

KsatriaLangit
30th Agustus 2007, 21:56

mangga

Guest
30th Agustus 2007, 21:55

test numpang lewat

Guest
30th Agustus 2007, 21:54

test numpang lewat

KsatriaLangit
30th Agustus 2007, 21:49

Silahkan memaki2 saya disini, gratis

itung2 menambah pahala menjelang ramadhan

KsatriaLangit
30th Agustus 2007, 21:48

lho...
ada yang marah nih
ngerasa yah?

[omarmokhtar]
30th Agustus 2007, 16:21

Quote:

Rasulullah Bersabda:

المُسْلِمُ لِلْمُسْلِمِ كَلْبُنْيَانِ بَعْضُهُمْ أوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Seorang muslim satu dengan yang lain itu sebagaimana saudara, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain

[omarmokhtar]
30th Agustus 2007, 16:17

Matikan saja ShoutBox anda kalau ternyata akan merugikan peng-opinian `ala KAMMI anda di blog ini..

 Username:

 Alamat Website:

 Shout:

View and Insert Smilies

 
Contact KsatriaLangit
E-mail address
111010191@students.stttelkom.ac.id

Pesan Pribadi
Kirim pesan pribadi

MSN Messenger


Yahoo Messenger
ghazzan2001

AOL Instant Messenger


ICQ Number


About KsatriaLangit
Terhubung
8th Maret 2005, 17:28

Lokasi
Bandung

Pekerjaan
Mahasiswa

Interests
banyak-lah

Blog
Blog Started
15th May 2007, 12:44

Total entries
5

Blog Age
160 days

Total replies
13

Visits
749

RSS

Users browsing this blog: Tidak ada

Menikah [repost]

11th September 2007, 11:55

Segala puji bagi Allah yang telah memberiku karunia dengan hidup dibawah naungan Al-Qur'an dalam suatu rentang waktu, yang kurasakan nikmatnya, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam hidupku. Kurasakan nikmat ini dalam hidupku, yang menjadikan usiaku bermakna, diberkahi dan suci.

(Sayyid Quthb, Muqaddimah Zhilal)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

More...Menikah...

Ada rasa senyap yang tiba-tiba menyergap kala kata ini harus hadir. Menghentakkan jiwa saat bertemu kembali dengan kilasan-kilasan itu, episode kehidupan.

Awal Ramadhan 1426, menjelang dini hari. Dengan didahului sujud panjang padaNya. Dengan seluruh kekuatan jiwa, ku eja kata itu dalam gelap, "Bismillah, InsyaAllah..."

"...barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya..." (At-Taghabun 11)

Rasa itu kembali menghentak saat bertemu kilasan sejarah, bergema keseluruh jiwa yang menyatu dalam gelora yang sama. Meneriakkan takbir. Berbaris bersama puluhan, ratusan, ribuan bahkan puluhan ribu manusia dijalanan panas Surabaya, Jogja, Bandung dan Jakarta. Aura serupa yang menggelora di medan jihad Afghan, Irak, Chechnya, Pattani, dan bumi suci Palestina. Dahsyat...

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata./Adalah pengorbanan di setiap tepinya,

Rasa sepi semakin menyayat saat menatap jaket lusuh bertuliskan KAMMI di punggungnya. Jaket yang kembali mencuatkan sebuah episode hidup, di sekre perjuangan, dago atas. Diskusi-diskusi 'nakal' antara sosok-sosok yang marginal dan meletup-letup. Diskusi yang bahkan tak berani dibayangkan pernah terjadi antara orang-orang 'suci'. Diskusi yang membangun jiwa, mengokohkan pemikiran dan menggebrak kesadaran. Dari Isya' hingga dini hari menjelang. Tetapi seruan yang sama membentak, "Bangun!". Dan berbarislah sosok-sosok itu, qiyamul lail. Beralaskan jaket yang sama.

Kutatap kembali jaket itu, dan ia semakin lusuh. Warnanya entah biru ataukah hijau. Tepi-tepinya telah lepas, resletingnya macet. Aku tak berani lagi memakainya. Jaket itu semakin lusuh, dan itu berarti aku semakin tenggelam pada ketiadaan.

Memutari ruangan yang lebih banyak berisi buku-buku terserak; Nietzsche, Habermas, Marx, Machiavelli dan Albert Camus. Tebaran buku dan coretan Che Guevara, Hegel dan Tan Malaka. Puisi-puisi Wordsworth, John Keats dan tentu saja aroma keabadian dari Sir Muhammad Iqbal. Dengan 'beberapa' buku-buku harakah tersimpan di bawah lemari.

Sikap yang kembali menggoreskan kenangan, "Akhi, untuk apa antum baca buku-buku seperti ini? Apa manfaatnya?" "Lho kan biar lengkap Akh. Nanti kalo nikah, akhwatnya buku-buku haraki, kitanya buku-buku 'kiri'. Kan lengkap perpustakaannya."

Episode-episode yang menggugah dan menyusun kepribadian. Lugas dan jujur dalam setiap plotnya. Episode yang menyusun pemahaman dan komitmen, fragmen demi fragmen.

Berdiri tegaklah di hadapan pintu Tuhanmu,//Tinggalkanlah yang lain./Mohonkan padanya selamat/Dari perdayaan negeri yang penuh fitnah ini

(Al Haddad)

Kita hidup di dunia yang tua, nyaris kehilangan nafas kehidupannya. Dunia yang lebih banyak menggambarkan kehilangan daripada harapan. Dunia yang meletakkan dominasi akal diatas cinta. Yang menggambarkan dualitas jiwa dan materi, melemparkan wahyu ke sudut peradaban.

Janganlah takjub terhadap barat ataupun timur.//Karena dunia lama dan baru ini,/Tidak sebanding dengan harga sebiji gandum

(Sir Muhammad Iqbal, Javid Nama)

Indonesia, sebuah negeri yang hiruk pikuknya justru berarti kegetiran. Negeri yang selalu menjadi anomali saat terjajar dengan negeri lain. Negeri yang menua dengan kelelahan dan tanpa masa depan. Dan nafasnya kini semakin berat...

Tapi tidak! Bukan berarti aku tak mencintai negeriku. Bahkan aku mencintainya lebih daripada sosok-sosok berlabel 'nasionalis' di Majelis Rendah itu! Aku mencintai Indonesia seperti Bilal saat mengenang Mekkah. Demikianlah Islam mengajariku mencintai negeriku, bahkan saat kutahu tiada satu alasan rasional pun yang bisa membuatku mencintainya.

Sungguh, telah kuteriakkan kegelisahan itu. Mengingatkan Indonesia bahwa ia telah rapuh dan kan terkeping-keping. Mengatakan padanya bahwa gemah ripah loh jinawi itu telah menjadi kosakata dongeng. Memintanya untuk taubat. Untuk bersujud. Untuk membumi bertemu dengan nurani ibu pertiwi. Untuk merendah bertemu dengan kuasa Allah. Indonesia – sungguh – telah kuminta untuk bersujud.

Tapi mungkin ia butuh masjid. Indonesia butuh masjid. Tempat ia bertafakur menemukan nurani. Menemukan Tuhan, menemukan akhlaq hidup bernama Islam.

….........//Ya Allah//Kami dengan cemas menunggu//kedatangan burung dara//yang membawa ranting zaitun.//Di kaki bianglala//leluhur kami bersujud dan berdoa.//Isinya persis doaku ini.//Lindungilah anak cucuku.//Lindungilah daya hidup mereka.//Lindungilah daya cipta mereka.//Ya Allah, satu-satunya Tuhan kami.//Sumber dari hidup kami ini.//Kuasa Yang Tanpa Tandingan//Tempat tumpuan dan gantungan.//Tak ada samanya//di seluruh semesta raya.//Allah! Allah! Allah! Allah!

(W.S. Rendra, Doa untuk Anak-cucuku, 1992)

Tapi bagaimanakah membangun masjid untuk negeri ini? Aku percaya bahwa cara terbaik adalah mengawalinya dengan membangun sarang. Dengan butir-butir, dengan batang-batang, dan dengan lembar daun-daun. Meski itu hanyalah rerumputan sederhana. Sarang ‘peradaban’ yang bermula shalat-sujud penyerahan dan pengorbanan. Sarang ‘perjuangan’ dengan awal sajadah terhampar. Sajadah cinta.

Dari sarang 'peradaban' inilah yang InsyaAllah kelak akan tercipta generasi baru. Masa depan Indonesia – bahkan umat manusia – adalah generasi ini. Generasi yang tumbuh dalam lingkungan kebaikan dan cinta, yang berhasil memenangkan kecenderungan kebaikannya (taqwa) atas ego kejahatannya (fujuur). Yang akan terus menerus tumbuh besar untuk menghadang angin. Terus menerus hingga angin kelelahan dan pulang.

Angin itu, Muhammad Quthb sebut sebagai kenyataan yang membuat kehidupan manusia akan tersusun atas keresahan, keraguan, atau kegelisahan. Kenyataan terus menerus yang katanya harus diatasi dengan “sarang” yang kokoh bernama keluarga bersama “teman” bernama pasangan hidup. Maha Benar Allah yang berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu menemukan rasa tenteram, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar Ruum 21)

Sarang 'peradaban' inilah yang melahirkan kekuatan maha dahsyat, kekuatan yang bisa memperbaiki –jika ia mau- atau menghancurkan sebuah bangsa. Sarang yang membuat Husain Muhammad Yusuf, dalam ahdaf al-usrah fil Islam, berani mengatakan bahwa inilah dasar dari sebuah negara, batu pertama untuk membangun negara. Ia melanjutkan dengan membahas betapa pentingnya keluarga ini, bahwa gambaran kekuatan yang dimiliki keluarga dan dalamnya fondasi nilai yang ada padanya, maka sejauh itulah gambaran moralitas dan kemuliaan bangsa tersebut. Inilah insfrastruktur utama masyarakat Islam dalam mengemban amanat istikhlaf - tugas-tugas kekhalifahan (Ismail Raji' Al-Faruqi).

Sarang yang dimulai dengan shalat-sujud penyerahan, pengorbanan dan doa. Agar Allah berkenan menjadikan sarang ini lebih dari nilai materialnya, agar ia maujud menjadi madrasah peradaban. Dengan awal sajadah terhampar. Sajadah cinta.

“Sesungguhnya rasa kasih sayang itu datang dari Allah, dan kemarahan (kebencian) itu datang dari syaithan. Dia ingin membuat engkau membenci pada apa yang dihalalkan Allah kepadamu. Jika ia (isterimu) datang kepadamu, maka ajaklah ia shalat dua raka’at di belakangmu” kemudian ucapkanlah do’a “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dengan isteriku, dan berikanlah keberkahan kepada mereka (keluarga isteri) dengan keberadaanku. Ya Allah persatukanlah kami berdua selama persatuan itu mengandung kebajikan-Mu, dan pisahkanlah kami berdua jika peripisahan itu menuju kebaikan-Mu” – Ibnu Mas’ud

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Undangan

Ikhwati fillah, kami memohon doa dan kehadiran antum-antunna pada hari bersatunya kami dalam cinta-Nya. Pada akad nikah sederhana kami, Sabtu 27 Mei 2006, jam 09.00. Di Jl. Mustika Ratu No. 8 RT 007 RW 08 Ciracas, Jakarta Timur dengan tema, "Menggelar sajadah cinta, mulai membangun madrasah peradaban". Madrasah yang dimulai dari rumah kita. Allahu Akbar!

'Afif – Rochma

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

PS: dikutip sebagian dari undangan walimah seorang akh

Posted By: KsatriaLangit

Bai’at

11th September 2007, 10:19
[ Reading Currently: Reading  ]

Bai’at
Ditulis pada April 27, 2006 oleh afif

“Demikianlah Kami jadikan kamu ummat yang 'pertengahan', supaya kamu menjadi saksi atas manusia.” (QS 2 : 143)

Muqaddimah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menulis dalam judul pembahasan : Kesatuan Millah dan Beragamnya Syariat, sebagai berikut :

“Pokok2 dari al-Qur’an, as-Sunnah dan al-Ijma’ adalah seperti kedudukan agama yang dimiliki oleh para nabi. Tidak seorangpun yang boleh keluar daripadanya, dan barangsiapa yang masuk ke dalamnya maka ia tergolong kepada ahli Islam yang murni dan mereka adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Adapun keragaman amal dan perkataan dalam masalah syariat adalah seperti keragaman syariat diantara masing2 nabi. Tanawwu’ (perbedaan pendapat) ini terkadang bisa pada perkara yang wajib, terkadang bisa pada perkara yang sunnah [Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah I/123-124]

Pokok Bahasan

Saat ini kita banyak melihat adanya gerakan-gerakan berlabel 'Islam' bertebaran di dunia. Ada yang moderat dan ada yang jatuh pada titik ekstrim. Semua misi yang diusung oleh gerakan-gerakan tadi, InsyaAllah adalah kebaikan. Hanya perlu adanya sebuah kewaspadaan bahwa bisa jadi ada skenario untuk merusak kesatuan gerakan Islam. Salah satu caranya ialah memunculkan gerakan berlabel Islam tetapi secara zhahir memiliki manhaj yang ekstrim dan mudah mengkafirkan atau menyesatkan gerakan lain yang tidak sepaham dengan mereka.

Salah satu ciri khas gerakan ini adalah 'mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah atas mereka'. [Yusuf Qaradhawy, Shohwah Islamiyah Baina Juhud wa Tatharruf]

Kita bisa mengetahui dari siroh, bahwa rasulullah saw adalah orang yang paling panjang shalatnya ketika sendirian dan paling ringan ketika ber jama'ah, hal ini beliau lakukan demi memelihara keadaan dan mengingat perbedaan tingkat kemampuan mereka (HR. Bukhari).

Include, memaksakan orang lain melakukan hal-hal yang sunnah, dengan menganggapnya seolah-olah wajib, dan menganggap yang makruh seolah-olah haram. Padahal Allah telah menetapkan posisi masing-masing nash dalam Al-Qur'an dan Sunnah dengan jelas. Yang diharuskan ialah agar kita tidak mewajibkan sesuatu kecuali dengan apa yang telah diwajibkan Allah SWT atas manusia. Adapun yang selebihnya, adalah pilihan bagi manusia. Bila ia inginkan, boleh melakukannya; dan bila tidak, boleh ditinggalkannya.

Salah satu ulama salaf yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan ini adalah Imam Nawawi. Kita lihat bahwa beliau (Imam Nawawi) cenderung meletakkan perintah dan larangan Allah pada tingkat fardlu (wajib) dan sunnah pada tingkat mustahab (disukai). [Imam Nawawi, Riyadhus Shalihin]

Beberapa Masalah

Ada gerakan Islam yang berpendapat bahwa bai'at adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim, barangsiapa yang tidak melakukannya maka ia terlepas dari Islam (murtad)

Mereka berdalil dengan;

"Barangsiapa yang meninggal dan dilehernya tidak ada bai'at maka ia mati dalam keadaan Jahiliyyah" [HR Muslim, III/1478]

Hadits ini ditujukan pada Imamah Al-Uzhma atau kepada khalifah, Ketika Imam Ahmad ditanya tentang bai'at ini dia berkata: "Bai'at ini adalah bai'at untuk Imam". Smentara itu adakah khalifah saat ini? Karena itu berdalil wajibnya bai'at dengan menggunakan hadits diatas tertolak. Bahkan seandainya benar ada bai'at untuk khalifah, maka menolak untuk membai'atnya pun tidak dapat disalahkan.

Imam Al-Waqidi mencatat ada 7 orang shahabat besar –ridwanullah alaihim- yg tidak memberikan bai'at pada Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a yaitu : Sa'd bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaib bin Sinan, Zaid bin Tsabit, Muhammad bin Maslamah, Salamah bin Aqwa' dan Usamah bin Zaid –ridwanullah alaihim-. [Tarikh Ar-Rusul, Al-Waqidi, IV/429]

Ali berkata pd Sa'ad bin Abi Waqqash : "Ber-bai'atlah engkau!" Sa'ad menjawab : "Aku tidak akan ber-bai'at sebelum orang-orang semua ber-bai'at. Tapi demi Allah tidak ada persoalan apa-apa bagiku." Mendengar itu Ali berkata : "Biarkanlah dia." Lalu Ali menemui Ibnu Umar dan berkata yang sama, maka jawab Ibnu Umar : "Aku tidak akan ber-bai'at sebelum orang2 semua ber-bai'at." Jawab Ali: "Berilah aku jaminan." Jawab Ibnu Umar : "Aku tidak punya orang yg mampu memberi jaminan." Lalu Al-Asytar berkata : "Biar kupenggal lehernya!" Jawab Ali : "Akulah jaminannya, biarkan dia." [Al-Milal wa An-Nihal, Ibnu Hazm, IV/103 dari riwayat Imam At-Thabari]

Itulah bai'at untuk khalifah, sementara ada pula yang berpendapat bahwa setiap muslim wajib ber'baiat pada Islam didepan seorang Imam. Mereka berdalil bahwa Islam yang diperoleh karena keturunan wajib diperbarui, dengan dalil perkataan Rasulullah;

"Tidak ada hijrah setelah fathu Makkah, akan tetapi aku membai'atnya untuk menganut Islam." [Shahih al-Bukhari 6/189. Hadits ke 3079. Kitab al-Jihad bab la hijrata ba'da al-fath, Kitab al-Imarah 3/2488. hadits ke 1864]

Hadits diatas berasal dari Mujasyi' bin Mas'ud yang datang membawa saudaranya yang bernama Mujalid bin Mas'ud kepada Rasul untuk berbai'at. Yang dipahami adalah Rasulullah membai'atnya untuk masuk Islam dari kondisi jahiliyah, bukan berarti membai'at seseorang yang sudah masuk Islam dan diperbarui. Ini adalah persoalan yang sudah jelas.

Sebagai penguat lagi bahwa baiat yang umum tidak mungkin diberikan kecuali hanya kepada pemimpin kaum muslimin (amirul mu'minin/khalifah), yang mampu mengumumkan perang, mengikat perdamaian dan menegakkan hukum-hukum had [Fiqh al-Da'wah al-Islamiyyah]. Dikarenakan masalah baiat adalah masalah yang jelas yang tidak mengandung kerancuan, tegas tidak menerima basa-basi. [Fi Zhilalil Qur'an II/782]

Seandainya benar ada bai'at untuk memperbarui aqidah/keimanan kita, maka seharusnya ada riwayat yang jelas dari rasulullah bahwa beliau pernah membai'at salah seorang sahabat shaghir atau anak-anak sahabat untuk memperbarui/menguatkan keIslamannya. Tetapi tidak ada satu dalil pun yang bisa diterima mengenai masalah ini. Karena masalah ini, jika benar, maka setiap muslim (dari lahir/keturunan) wajib memperbarui keIslamannya didepan imam, maka mafhum mukhalafahnya ialah selainnya berarti murtad. Ini perkara yang besar, tidak mungkin dalam syari'at terlewat.

Maraji' :

al-Wala' wal bara', Muhammad bin Sa'id Al-Qahthani, Era Intermedia

Minhajul Muslim, Abu Bakr Al-Jazairy, UMM Press

Shohwah Islamiyah Baina Juhud wa Tatharruf, Yusuf al-Qaradhawy

PS:artikel2 lain bisa dilihat di afif.wordpress.com

Posted By: KsatriaLangit

Maktabah Syamilah

1st September 2007, 17:44
[ Reading Currently: Reading  ]

Program untuk referensi kitab2 [Arabic]

570) {this.width=570}" style="cursor: hand" onclick="javascript:window.open('http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/144902727446d93c28d20cd.jpg')" title="http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/144902727446d93c28d20cd.jpg">

570) {this.width=570}" style="cursor: hand" onclick="javascript:window.open('http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/164071966746d93f310f7bf.jpg')" title="http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/164071966746d93f310f7bf.jpg">

570) {this.width=570}" style="cursor: hand" onclick="javascript:window.open('http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/164371507246d9424c5e48b.jpg')" title="http://students.stttelkom.ac.id/web/weblogs/upload/43/164371507246d9424c5e48b.jpg">

program ini bagus sekali, ada fasilitas searching maudhu'i [tematik] dan mendukung pengkajian cross-reference [satu tema dari banyak kitab dan merujuk dari kitab ke kitab]

isinya beragam; mulai dari tafsir, hadits [matan saja], syarah, fiqh, ushul fiqh, syair, nahwu-sharf etc. komentar dari Sakhr [vendor pembuatnya] berisi +- 1800 kitab klo dijadikan buku berapa lemari yah?

Program dikompress dalam 1,5 Gb; aslinya sekitar 3Gb
klo ada yang mau ngopi, ke lab ajah bw DVD-R

Posted By: KsatriaLangit

Jihad, NII dan MMI - Umar Abduh

29th Agustus 2007, 22:10
[  Mood: Distorted ]
[ Reading Currently: Reading  ]

Searching di internet, nemu artikel bagus. Udah lama memang tetapi isinya bener-bener mengejutkan
Setelah baca ini muncul, "oh ternyata gitu" konspirasi dimana-mana

Wawancara dengan Umar Abduh

sedikit snapshot;

Mengenai konsepan Jihad

Quote:
...ada dua konteks jihad dalam Islam, yaitu jihad dalam keberagamaan. Artinya jihad dalam dimensi penyesuaian dan kesungguh-sungguhan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian jihad juga bermakna berperang di jalan Allah. Singkatnya, dalam berjihad itu harus benar akidahnya, benar ibadahnya, benar akhlaknya. Lalu baru ditingkatkan pada penegakan komunitas...


Mengenai NII
Quote:
...Kalau NII yang pertama kali didirikan oleh Kartosuwiryo, tidak seperti itu. Kesalahan pada zaman Kartosuwiryo itu karena mereka memahami hadist-hadist yang berkaitan dengan jama’ah dan khilafah. Namun mereka ti¬dak memproyeksikan hal itu kepada dirinya. Mereka mengatakan bisa menjadi khilafah, padahal hadist-hadist pada zaman itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk diterapkan saat ini...


Hubungan antara Ba'asyir-NII-Inteljen
Quote:
...Hal itu diperparah ketika Abdullah Sungkar menerima tawaran MMI. Mereka yang saat itu sudah terlibat di Poso dan Ambon, akan melebarkan masalah tersebut ke Jakarta atas provokasi dari intelejen. Intelejen memandang kelompok Sungkar ini sangat berbahaya. Dimana dia memiliki potensi bertentangan dengan pemerintah yang sangat luar biasa. Akhirnya, MMI yang tidak ada bahayanya pun ikut dikait-kaitkan. Ini artinya di antara JI ada orang-orang yang berba¬haya. Dimana orang ini tidak dapat dikendalikan lagi oleh orang JI, sehingga JI itu menjadi terpecah-pecah. Ada kelompok Abu Bakar Ba’asyir dan kelompok Hambali...


Apakah Sidang Ba'asyir Rekayasa?
Quote:

Penahanan Ba’asyir itu ada intervensi dari Amerika?

Tidak. Itu hanya sandiwara saja. Karena yang memberikan laporan baik buruknya seorang warga negara itu adalah bangsanya sendiri. Jadi kalau kita mengatakan bahwa seseorang itu adalah antek-antek asing yang membongkar Indonesia. Maka berita itu hanya bisa disebarkan oleh orang Indonesia sendiri. Intelejen pun juga seperti itu...


Seingat gw MMI-pun pernah disusupi inteljen, namanya Fauzi Hasbi a.k.a Abu Jibril (yang pernah bom meledak di halaman rumahnya) gak tanggung2 di posisi puncak pimpinan MMI (Div.Hubungan Antar Mujahid) CMIIW

Ingin menggali lebih dalam?
cek www.cedsos.com also www.hidayatullah.com (referrer link)

*Umar Abduh adalah aktivis gerakan Islam yang pernah dipenjara selama 10 tahun oleh rezim Orde Baru karena terlibat aktivitas jama'ah Imron & pelaku pembajakan pesawat Garuda Woyla, di Thailand pada 1980. Sekarang aktif sebagai Sekjen LSM CEDSOS (Center For Democracy and Social Justice Studies)

Posted By: KsatriaLangit

Taujih Gerakan

20th Agustus 2007, 17:10

Menyiapkan Momentum

Tiap kali mentadabburi surah al-‘Ashr yang berjumlah 3 ayat itu, selalu menyisakan kekaguman yang luar biasa. Terlebih jika tiga ayat pendek-pendek itu dilihat dalam kacamata realitas sejarah jatuh bangun peradaban Islam. Seakan perkataan Imam Syafi’i terngiang kembali dengan segar. “Kalau umat manusia merenungkan surah ini, pastilah dia meliputi mereka (memadai).”

Yang menarik lagi ketiga ayat itu ada kaitannya dengan rumus Momentum dalam pelajaran Fisika yang pernah kita pelajari ketika Aliyah/SMU dulu. Hasil perenungan ini menyimpulkan satu rumusan yang saya sebut sebagai “fisika gerakan”. Surat ini menyibak rahasia besar kehebatan persaingan peradaban, yang satu sama lain tengah berjalan dalam prinsip hukum-Nya.

Bagaimanakah kaitan keduanya. Mari kita tadabburi terlebih dahulu surah al-Ashr. Surah ini berada dalam urutan ke-103, berjumlah tiga ayat, terletak di Juz ‘Amma, dan tergolong sebagai ayat-ayat Makkiyah.

Di ayat pertama Allah bersumpah dengan lafadz wal ‘ashri. Beberapa edisi Al-Qur’an Terjemah menerjemahkannya dengan kalimat: Demi Masa. Dalam buku Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 hal. 1041 disebutkan bahwa al-Ashr artinya ’zaman’. Zaid bin Aslam mengatakan bahwa al-‘ashr berarti shalat ashar. Kuntowijoyo pernah menafsirkan surat ini dalam artikel panjang di sebuah harian nasional dengan istilah waktu ashar. Menurutnya, waktu ashar ini merujuk pada waktu sore. Dia bukan waktu siang sebab matahari sudah akan tenggelam, dan bukan pula waktu malam, sebab rembulan pun belum muncul. Di saat-saat pergantian waktu itulah Allah bersumpah bahwa manusia saat itu dalam keadaan merugi, semuanya! Yang dikecualikan hanya mereka yang tergolong dalam empat golongan saja.


Konteks Peradaban
Dalam konteks peradaban, waktu ashar ini adalah waktu di mana sebuah peradaban tengah tergelincir ke Barat. Dan di Barat-lah matahari selalu tenggelam. Lalu mentari peradaban pun terbit kembali dari Timur di pagi hari. Di saat pagi inilah Allah bersumpah dua kali untuk dua waktu yang jaraknya amat berdekatan. Wal fajri (demi waktu fajar) dan wash-shubhi (demi waktu shubuh). Imam Ali pernah ditanya, apa sesuatu yang tidak bernyawa dan tidak berparu-paru tapi bisa bernafas, beliau menjawab, wash-shubhi idza tanaffas (demi waktu subuh ketika dia bernafas). Lalu mengiringi matahari yang naik sepenggalan, Allah pun bersumpah kembali wadh-Dhuha (demi waktu dhuha). Ketika siang pun Allah bersumpah, wan-nahari idza tajalla (demi siang apabila terang benderang). Masuk sore hari, Allah bersumpah, wal-Ashri. Dan waktu malam, wallaili idza yaghsya (demi waktu malam apabila menutupi—cahaya siang). Begitulah pergiliran waktu yang di masing-masingnya Allah meletakkan sumpah-Nya yang Maha Besar. Dan, setiap peradaban akan melewati waktu-waktu yang telah diletakkan sumpah-Nya itu.

Ada apa dengan waktu ashar? Waktu ashar dalam konteks peradaban adalah detik-detik yang menentukan. Di waktu yang singkat ini jarang ada peradaban yang bisa bertahan. Masing-masing peradaban mengalami ketergelinciran menuju kegelapan malam yang menghanyutkan dan menghancurkan.

Beginilah faktanya, di pagi hari manusia dalam kesegarannya mereka bangkit menyiapkan berbagai pekerjaan yang produktif. Hingga jalan-jalan pun macet. Di siang hari, hasil jerih payah itu mencapai puncaknya. Masuk waktu sore, manusia-manusia peradaban itu pun kelelahan, pulang kerja, meletakkan seluruh pekerjaannya, dan mengambil aktivitas santai hingga malam menjelang. Lalu mereka tidur pulas pada waktu malam, hanya beberapa saja yang mempertahankan matanya tetap produktif.
Kejadian harian di atas berlaku juga pada perjalanan sebuah peradaban. Islam di awal risalah Nabi Muhammad saw. merupakan masa-masa yang menentukan produktivitas peradaban dengan gencarnya dakwah. Prestasi spiritual ini berhasil menjadi fondasi kegemilangan peradaban hingga abad pertengahan yang dijuluki kaum orientalis dengan fase the golden age (Masa Keemasan). Namun pergiliran pun tidak terlekakkan, perjalanan peradaban Islam memasuki waktu ashar, matahari peradaban saat itu bergulir ke Barat melalui Cordova, Spanyol, hingga mereka renaissance. Barat tercerahkan, Islam sendiri mengalami kebuntuan kreativitas, sebab pintu ijtihad telah ditutup. Masuklah malam. Peradaban Islam tidak lagi tergelincir melainkan tertidur. Ia terlelap kelelahan, dan hanya sedikit pahlawan yang bangun saat itu. Jika pun mereka teriak, tak ada suara yang menyahut. Senyap. Bahkan sepi. Inilah tragedi yang menyayat kemanusiaan. Di tengah kolonialisasi Barat dengan spirit merkalitilisme- nya, tidak ada satu pun kekuatan yang membebaskan bangsa-bangsa yang tertindas itu. Apatah lagi umat Islam. Ia sudah porak poranda, terpecah-pecah dalam firqah-firqah, etno-nasionalizm, dan sebagiannya terjual menjadi antek-antek penjajah. Berbagai upaya kebangkitan para pahlawan telah pun dilakukan, namun umat masih tidur nyenyak. Ia hanyut dalam perdebatan usholli, qunut, tawashul, dan berbagai persoalan furu’iyah lainnya.

Kegetiran sejarah yang sedemikian, menyisakan sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab dengan jujur. Apakah saat ini kita masih di malam hari? Ataukah mungkin masih tersangkut di sore hari? Saya kira tidak di keduanya. Pertumbuhan harakah-harakah Islamiyah di masa kini amat menggembirakan. Kesadaran berislam telah pun bersemi dari bawah, walau pola pemerintahannya masih warisan para penjajah terdahulu. Geliat kapitalisme global pun telah memporakporandakan bangsa-bangsa yang beretika itu menjadi liberal, bahkan sangat liberal. Namun di tengah-tengah kegelapan ini, Allah menjanjikan Islam akan datang segera menggiring umat manusia pada cahaya-Nya melalui para mujadid yang telah diutus-Nya di waktu fajar kebangkitan. Itu artinya masa kita saat ini berada di waktu kedua, subuh hari. Subuh itu, seperti dikatakan Imam Ali, adalah waktunya bernafas, menghirup berbagai inspirasi kebangkitan, mengeratkan berbagai komponen pendukung, dan menyiapkan berbagai energi kekuatan kebangkitan hingga terjadilah momentum perubahan yang Allah janjikan di masa depan kelak.
Layastakhlifannahum fil alardh…(QS. An-Nur: 55)


Rumus Momentum
Lantas apa kaitannya dengan rumus Momentum? Elaborasi di atas menjelaskan fase-fase perjalanan peradaban Islam dari era kebangkitan yang dibangkitkan oleh Nabi Muhammad saw.—setelah jatuh bangun peradaban Islam yang dilalui oleh para nabi sebelumnya—hingga fase kini di era kebangkitan jilid kedua. Rumus Momentum itu diperlukan dalam kerangka menciptakan momentum baru menyingkap embun pagi menuju masa-masa produktivitas menyambut kejayaan yang dijanjikan Allah. Satu keyakinan saya, bahwa momentum itu, selain ia hadir karena pergesekan realitas berbagai sejarah besar, juga sebenarnya momentum dapat diciptakan (dengan Izin Allah, tentunya). Momentum apa pun yang ingin kita ciptakan, rumusannya sama. Dan ia harus mengikuti ketentuan kauniyah-Nya, yakni massa dikali kecepatan. Atau kawan dari fisika menyederhanakannya begini: m x v.

Mari kita terjemahkan rumusan fisika di atas ke dalam bahasa pergerakan sosial. Bahwa yang disebut dengan massa adalah masyarakat, umat, atau aktivis pergerakan itu sendiri.

Sedangkan kecepatan adalah upaya dan tindakan terjadinya berbagai akselerasi perubahan.
Mengikuti rumusan di atas, jika kita ingin menciptakan momentum, maka rumusnya adalah perbanyaklah kuantitas massa kita bersamaan dengan itu perbesarlah tingkat akselerasi kita dalam banyak hal.

Perlu diperhatikan. Rumus Momentum bukanlah massa ditambah kecepatan melainkan dikalikan. Itu artinya, satuan kekuatan kita sebagai seorang aktivis bukan ditambah dengan satuan aktivis lainnya, melainkan seorang dan seorang lainnya—yang tentunya bukan dua orang—digandakan berlipat ganda dalam sebuah sistem pergerakan yang akseleratif. Maka dalam sebuah pergerakan mahasiswa, sistem pengkaderan perlu dirancang secara heroik (psikomotorik) , menjiwai hingga tingkat kesadaran yang tinggi (afektif), dan memantik daya pikir (kognitif) mereka pada persoalan dan kemampuannya menjadi problem solver, bukan sekedar problem speaker, atau malah problem maker. Kerja-kerja ini juga tidak akan berhasil jika tidak ditopang dengan sistem gerakan yang terpadu di semua aspeknya, baik dari sisi tata keorganisasian, kecepatan menanggapi persoalan (tidak sekedar cepat bersikap), kemampuan menjaring relasi perubahan, dan daya dukung lainnya secara operasional.

Di atas itu semua, kesadaran akan kemenangan peradaban masa depan di tangan Islam, pengkaderan adalah kultur gerakan, yang berarti pekerjaan mengkader adalah mentalitas kader dan pengurus itu sendiri. Masing-masing mereka adalah orang-orang pembelajar dan secara terbuka terbiasa menularkan kemampuannya pada yang lainnya. Mereka memiliki tradisi berguru pada orang-orang terbaik di zamannya, pada ustadznya, dosennya, kawan mahasiswa yang menjadi teladannya, pakar di bidangnya, organisasi pergerakan lainnya, khazanah para ulama yang telah meninggalkan warisan ilmunya, bahkan teknologi, maupun kajian stratejik yang dimiliki Barat maupun Timur. Mereka pegiat di lapangan, kokoh secara akhlak dan valid secara konsepsional.

Rancangan gerakan dengan spirit Menuju Muslim Negarawan adalah tantangan kita semua untuk menciptakan momentum baru gerakan mahasiswa di Indonesia. Seperti apakah bentuk konkritnya kelak, ia hanya akan dicapai bentuknya oleh rumusan tadi: kuantitas banyaknya kader-kader terbaik yang akseleratif dan progresif dalam mempelajari berbagai hal secara terpadu dan terinterkoneksi satu sama lainnya. Lebih dari itu mereka adalah hamba Allah yang ketika diam duduk dengan tenang dan bergerak dengan semangat. Allahu a’lam



Kaliurang, Yogyakarta
26 Juli 2007

Rijalul Imam
Mas'ul Maktab Tarbiyah KAMMI Pusat

Posted By: KsatriaLangit
Connected by StudentsCrew2007 from Hyperion & TheBlogMod.com